Rahasia Sunnatullah

Rahasia Sunnatullah

Oleh: Dr. Amir Faishol Fath
________________________________


dakwatuna.com – Dalam sebuah pengajian di Masjid Konsulat Jenderal RI
(KJRI) di Los Angeles, seorang bertanya mengenai beberapa Negara yang
tadinya lemah, tetapi kerana kerja keras mereka kini menjadi bangkit.
Seperti Korea dan Jepang. Padahal mereka dalam pengelolaan sitem
bernegara tidak pernah mengatasnamakan syariah. Demikian juga
negara-negara maju lainnya di Eropa maupun di Amerika. Sementara umat
Islam hanya berteriak syariah, tetapi mereka belum bangkit-bangkit.

Di manakah yang salah?

Memang pertanyaan seperti ini kerap kali muncul. Kalau tidak diimbangi
dengan keimanan yang kuat dan pemahaman yang luas, bisa saja seseorang
salah paham, lalu tiba-tiba ia keluar dari Islam. Sebab pada
kenyataannya banyak negara umat Islam yang tidak berdaya dan tidak
berwibawa. Bahkan mereka tidak sanggup menyelesaikan persoalan mereka
sendiri secara internal. Lalu bagaimana cara menjawab pertanyaan
seperti ini?

Saya jelaskan bahwa di alam ini ada dua sistem: Pertama, sistem yang
didisain secara khusus untuk mengatur jalannya segala wujud, sehingga
semuanya berjalan dengan rapi dan terartur. Ini disebut dengan
sunnatullah, dan para ilmuan sering menyebutnya dengan istilah hukum
alam. Kedua, sistem yang diturunkan melalui wahyu, untuk mengatur dan
menuntun bagaimana manusia hidup di muka bumi sehingga tidak
bertentangan dengan tujuan yang telah Allah swt. tentukan, ini disebut
dengan syari’atullah. Adapun mengenai sunnatullahsiapa saja yang
mematuhinya ia akan mendapatkan manfaat secara duniawi. Tidak ada
bedanya antara orang yang beriman maupun yang tidak. Sebab sunnatullah
lebih berupa hukum kausalitas (sebab mesabab). Ia bersifat matematis.
Siapa yang bersungguh-sungguh dapat manfaatanya. Siapa yang makan,
kenyang sekalipun ia tidak beriman, dan yang tidak makan, lapar,
sekalipun ia beriman. Dalam hal ini pernah dicontohkan dengan dua
tempat. Satunya masjid dan satunya tempat maksiat. Secara sunnatullah
tempat maksiat lebih patuh, yaitu di atas bangunan tersebut dipasang
penangkal petir. Sementara masjid mengabaikansunnatullah, dengan
anggapan bahwa itu tempat ibadah. Maka tidak perlu diberi penangkal
petir. Apa yang terjadi kemudian adalah bahwa tiba-tiba petir
menyambar, masjid itu hancur dan tempat maksiat itu tidak.

Di sini menarik untuk dicatat bahwa hidup di dunia tidak cukup hanya
dengan patuh kepada syariatullah tetapi juga harus patuh kepada
sunnatullah. Islam bukan hanya ikut syariatullah tetapi juga ikut
sunnatullah.

Rasulullah saw. tidak hanya mengajarkan shalat dan puasa tetapi juga
mengajarkan kejujuran dan keadilan, kerapian, kerja keras,
kedisiplinan, kesungguhan menegakkan hukum (sisi yang kedua ini
termasuksunnatullah). Islam tidak hanya melarang tindakan mengabaikan
shalat, puasa dan ritual lainnya, tetapi juga melarang sogok menyogok,
korupsi, menipu, kedzaliman dan sebagainya. Dalam kenyataan
sehari-hari di tengah umat Islam masih banyak yang tidak mengambil
Islam secara lengkap. Islam hanya diambil sisisyariahnya (baca:
ritualnya) saja. Sementara sunnatullah di lapangan sosial diabaikan.
Kebiasaan korupsi, menipu, sogok menyogok, tidak jujur dianggap
pemandangan yang biasa. Sementara negara-negara maju, sangat takut
dari kebiasaan seperti ini. Setiap tindakan menipu, sogok-menyogok,
korupsi dan lain sebagainya, sekecil apapun mereka lakukan, maka akan
ditindak secara hukum dengan tegas. Karenanya mereka maju secara
keduniaan.

Sementara di sisi lain kita menyaksikan orang-orang Islam tidak
berdaya. Mereka mati dipojok masjid, dan tidak bisa memberikan
kontribusi bagi kemanusiaan secara luas. Padahal dalam sejarah Islam,
telah terbukti bahwa umat ini pernah memimpin seperempat dunia, dengan
kegemilangan sejarah tak terhingga bagi kemanusiaan. Puncaknya di
zaman Umar Bin Khatthab lalu di zaman Umar bin Abdul Aziz. Pada zaman
itu tidak ada seorangpun yang didzalimi. Umar bin Khaththab pernah
mengumumkan bahwa anak bayi dari sejak lahir sampai umur lima tahun,
ditanggung oleh negara. Dan ternyata aturan ini kini dipraktikkan di
Amerika.

Seluruh pajak pada zaman itu benar-benar disalurkan secara benar.
Tidak ada yang diselewengkan. Ditambah lagi dengan kewajiban zakat
yang secara khusus disiapkan untuk membantu kemanusiaan. Kareananya
pada zaman ke dua Umar tersebut rakyat tidak hanya mencapai puncak
kesejahteraan tetapi juga mendapatkan keadilan hukum secara
proporsional.

Di negara-negara maju ternyata telah mempraktikkan ini. Mereka hidup
di atas pajak. Dan secara tarnsparan pajak-pajak tersebut dikelola
dengan benar. Baik untuk pengembangan infra-struktur maupun untuk
kebutuhan sosial secara umum. Semakin banyak tuntutan kebutuhan
infra-struktur dan sosial semakin mereka tingkatkan pajaknya. Dalam
perjalanan yang saya alami ke kota-kota besar di Kanada dan Amerika,
saya banyak mendegar cerita bahwa belum pernah di sana ada seorang
pasien ditolak masuk rumah sakit karena tidak punya biaya. Para
homeless dan jobless (orang-orang yang tidak punya rumah dan tidak
punya pekerjaan) mendapatkan tunjangan khusus dari negara berupa
tempat tinggal dan kebutuhan makanan. Orang-orang jompo dirawat dan
ditanggung oleh negara. Bagi mereka menyelamatkan kemanusiaan adalah
hal yang harus diprioritaskan.

Dalam Islam, semua variable dan contoh-contoh tersebut adalah
sunnatullah dan syariatullah sekaligus. Bahwa Islam bukan hanya sibuk
mengurus perbedaan pendapat dalam masalah fikih seperti qunut, jumlah
rakaat tarawih dan lain sebagainya, melainkan menyelamatkan kemanusiaa
adalah juga Islam. Bahwa Islam bukan hanya shalat, dzikir di
masjid-masjid, melainkan berkata jujur, menjauhi sogok menyogok,
disiplin, bekerja keras, transparansi, tidak koupsi dan lain
sebagianya adalah juga Islam.

Kini kita sudah saatnya umat Islam kembali ke fitrhanya semula,
seperti yang dicontahkan Rasulullah saw. dan sahabat-sahabatnya, serta
penurusnya dari para tabi’in yang salih. Fitrah kepatuhan secara
komprhensif, bukan parsial. Fitrah kesungguhan menjalankan
syariatullah sekaligus sunnatullah. Sebab hanya dengan langkah ini
umat Islam akan kembali berdaya dan memberikan kontribusi terbaik bagi
kemanusiaan di seluruh alam (baca:rahmatan lil aalamiin). Wallahu
a’lam bishshawab.

Los Angeles, Mei 2010.

http://www.dakwatuna.com/2010/rahasia-sunnatullah/

Hawa Nafsu Dikemas dengan Ilmu

Hawa Nafsu Berkedok Ilmu

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? [QS. Al Jaatsiyah (45) : 23].

Allah Subhanahu wa Ta'ala menciptakan malaikat dengan menyertakan akal tanpa hawa nafsu. Dan menciptakan binatang dengan menyertakan hawa nafsu tanpa akal. Sedangkan Allah Subhanahu wa Ta'ala menciptakan manusia dengan menyertakan akal dan hawa nafsu sekaligus.

Maka barangsiapa yang ilmunya menguasai hawa nafsu maka dia lebih baik dari malaikat dan barangsiapa hawa nafsunya mengalahkan ilmunya maka dia lebih buruk dari hewan.

Demikian Malik bin Dinar mendudukkan manusia.

Jika malaikat senantiasa taat, itu karena mereka diciptakan tanpa disertai hawa nafsu yang menentangnya, tetapi manusia yang dititahkan disertai hawa nafsu lalu dia mampu menundukkan nafsu dengan ilmunya, maka dia manusia istimewa. Demikian pula halnya, menjadi kewajaran jika binatang hanya makan dan menuruti syahwatnya, karena memang mereka diciptakan tanpa diberi akal.

Tetapi manusia yang diberi akal lalu hanya memperturutkan hawa nafsunya maka binatang lebih baik darinya. Allah berfirman:

"Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai." [QS. Al-A’raf (7): 179]

Ilmu VS Hawa Nafsu

Allah Subhanahu wa Ta'ala menghendaki agar manusia mau mengendalikan hawa nafsu dengan ilmunya, namun setan berusaha menggiring manusia untuk memperturutkan hawa nafsunya. Ilmu dan hawa nafsu senantiasa berebut untuk meraih hegemoni, selalu bertarung untuk dapat mendominasi jiwa manusia. Yang paling celaka adalah ketika hawa nafsu yang bertahta dalam jiwa manusia, menjadi raja yang menjadi sesembahannya :

Katakanlah: "Bagaimana pendapatmu jika (Al Qur'an) itu datang dari sisi Allah, kemudian kamu mengingkarinya. Siapakah yang lebih sesat daripada orang yang selalu berada dalam penyimpangan yang jauh?" [QS. Fusilat (41) : 52].

Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu). [QS. Al-Furqaan (25) : 44].

Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doa) nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka? [QS. Al-Ahqaaf (46) : 5.

Pertarungan tersebut bukan saja terjadi pada masing-masing jiwa manusia, namun juga membumi. Jika hawa nafsu banyak menguasai mayoritas manusia di bumi, maka bisa jadi hawa nafsu yang memegang kendali dan merajai.

Ibnu Mas’ud pernah berkata di hadapan sahabat dan tabi’in: "Sesungguhnya kalian hidup di suatu zaman di mana kebanaran yang menguasai hawa nafsu, namun kelak akan ada suatu zaman di mana hawa nafsu yang merajai kebenaran."

Rupanya zaman itu sudah sampai. Lihat saja, setiap kali terjadi perang opini, maka pemuja hawa nafsu lebih banyak pendukungnya, para pengumbar nafsu paling banyak dijadikan idola.

Hawa Nafsu Dikemas dengan Ilmu

Proyek meng’hawa-nafsu’kan dunia ditempuh setan dengan banyak cara sekaligus menunjuk arsitek dan para pekerjanya. Di antara cara tersebut adalah membungkus hawa nafsu dengan kedok ilmu. Tugas ini diemban oleh ‘syaithan nathiq’ (setan bicara) yang melegalkan hawa nafsu atas nama ilmu. Dengan kemasan ini, kampanye setan untuk menggolkan hawa nafsu sebagai penguasa sukses dengan kemenangan telak.

Kasus pornografi misalnya. Definisi dan batasan istilah ini diperdebatkan, namun hanya satu tujuan setan, memenangkan opini bahwa ‘tidak ada yang layak dikatakan porno’. Statemen yang paling efektif untuk ini adalah pernyataan bahwa ‘batasan pornografi itu relatif.’

Cermatilah, bagaimana setan mengajari murid-muridnya untuk berargumen. Ketika seorang model yang suka tampil vulgar ditanya tentang sikap masyarakat yang memandang tabu dan mem’porno’kan gayanya, dia menjawab: "Terserah mereka, tinggal dari sisi mana mereka menilai. Kalau mereka ‘positif thinking’ (husnudzhon) ya mereka menganggapnya baik, tapi kalau sudah ‘negatif thinking’ (su’udzhon) duluan, ya...apa-apa dikatakan jelek." Inilah hawa nafsu yang dikemas dengan ‘ilmu’. Mereka hanya ingin berkelit dari hukum manusia, tetapi mereka tak mungkin bisa lari dari hukuman Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Tidak jarang pula bahkan, orang-orang yang se-tipe dengannya menganggap masyarakat yang anti pornografi sebagai kaum munafik, ‘toh sebenarnya mereka juga demen’, katanya. Tetapi, munafik yang sebenarnya adalah mereka yang tidak mau taat kepada norma yang telah digariskan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Rasul-Nya, bahkan menghalangi orang-orang dari Nya, firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :

"Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul", niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu." [QS. An-Nisa’ (4) : 61]

Dilegalkan Para Cendekiawan

Wajar jika pernyataan-pernyata an sumbang seperti beberapa contoh di atas muncul dari orang-orang yang notabene memang jauh dari bangku pondok pesantren, atau jarang mencicipi pengetahuan agama. Yang aneh adalah orang-orang yang ditokohkan dalam hal agama ikut-ikutan pula mempromosikan hawa nafsu berkedok ilmu. Tentunya dengan gaya yang lebih Islami, bumbu-bumbu dalil, ramuan ushul fikih plus argumentasi yang runtut.

Terutama mereka yang berada dalam jajaran Islam liberal. Untuk menghalalkan segala hal, mengkampanyekan budaya serba boleh dan ‘anti haram’, banyak ungkapan nyleneh yang dikuatkan dalil-dalil. Seperti pernyataan ‘Fikih islam tidak cukup untuk memahami seni’, atau ‘akal adalah rasul Allah di muka bumi’ atau menggunakan kebebasan dalam menafsirkan Al-Qur’an. Namun yang dituju hanya satu ‘tidak ada yang haram’, karena menurut mereka keharaman itupun juga relatif, tinggal dari sisi mana orang melihat.

Al-Qur’an Sesuai di Setiap Waktu dan Tempat

"Kalimatul haq uriida biha al-bathil’, pernyataan yang benar namun dipakai untuk maksud yang bathil. Ungkapan ini sepertinya pas ditujukan untuk orang-orang Islam Liberal yang memiliki ‘track record’ menghalalkan yang sudah jelas haram dengan dalih Al-Qur’an sanggup menjawab persoalan di setiap zaman, atau Islam bisa sesuai dengan kondisi kapanpun.

Ungkapan ini benar, namun tuan-tuannya penganut JIL terbalik dalam terapannya. Mereka merubah alat ukur sebagai yang diukur, sedangkan yang mestinya diukur malah dijadikan alat ukur. Mereka justru memaksa Al-Qur’an untuk membolehkan sesuatu yang haram karena sudah terlanjur mengakar dan mengkondisi di masyarakat. Seakan mereka berkata ‘karena zaman sudah seperti ini, maka ini dan itu diperbolehkan’. Dalilnya? Islam cocok untuk setiap kondisi dan zaman, katanya.

Padahal posisi yang tepat untuk ungkapan tersebut adalah bahwa dalam kondisi apapun syari’at Islam secara komprehensip sesuai untuk diterapkan. Umat akan baik selagi mereka mau mengambil petunjuk darinya dalam setiap perkataan dan perbuatan. Inilah maksud hadits Nabi:

"Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara, kalian tidak akan sesat selama, selagi berpegang dengan keduanya, yakni kitabullah dan sunnah Nabi-Nya." (HR Malik)

Ilmu yang Sebenarnya

Gaya bicara dan retorika berargumen jubir pemuja hawa nafsu memang membuat kita silau. Terkesan cerdas, logis dan ilmiah. Apalagi jika dalil Al-Qur’an sesekali menjadi alat legitimasi dari pendapatnya, gelaran cendikiawan muslim serta merta melekat di jidatnya. Fenomena ini telah digambarkan juga oleh Ibnu Mas’ud sekaligus solusi untuk menghadapinya. Beliau katakan: "Sesungguhnya kalian nanti akan mendapatkan suatu kaum yang mengaku menyeru kalian kepada Kitabullah padahal sesungguhnya mereka membuang Al-Qur’an di belakang punggung mereka, maka hendaknya kalian berpegang kepada ilmu…dan hendaknya kalian mengikuti para salaf (sahabat hingga tabi’ut tabi’in)."

Dengan ilmu, kita mengenali kecurangan orang yang hanya menjadikan Al-Qur’an sebagai alat legitimasi untuk melegalkan hawa nafsu sebagaiman kita mengenali kebenaran. Ilmu yang dimaksud di sini adalah ‘ulumus syar’i al-muruts ‘anin Nabi’, ilmu syar’i yang diwariskan oleh Nabi Muhammad Salall laahu Alaihi Wasallam. Sedangkan yang paling paham tentangnya adalah para sahabat Nabi salall laahu alaihi wasallam, kemudian tabi’in, kemudian tabi’ut tabi’in dan ulama-ulama berikutnya yang setia dengan jalan yang telah ditempuh oleh mereka. Inilah jalan selamat dari tipu daya para ‘jurkam’ hawa nafsu, sebagai jawaban JIL shalat 5 waktu dapat dilakukan dengan bahasa ibu tersebut dibawah ini.

(Abu Umar Abdillah di sadur dari Majalah Ar-risalah)

 

Design in CSS by TemplateWorld and sponsored by SmashingMagazine
Blogger Template created by Deluxe Templates