MEMAHAMI ANAK BARU GEDHE (ABG) AGAR BERPRESTASI GEDHE
A. PENGANTAR
HURA – HURA
Ini dia kisah anak manusia
Ayah ibu sibuk semua
Cari harta siang dan malam
Anak dimanja dengan uang
Hingga terlupakan kasih sayang
Sianak jadi timbul kecewa
Dicarinya cara tuk bahagia
Dalam kehidupan yang hampa
Selalu berfoya-foya
Tiada hari tanpa hura-hura
Dalam hura-hura
Hatinya duka
Yang didambakannya kasih orang tua
Tapi kini apa yang terjadi
Semakin hari semakin jadi
Gaya hidup metropolitan
Yang penuh dengan kepalsuan
Tiada hari tanpa hura-hura
“CHRISYE”
Lagu ini sudah satu dasawarsa lebih dipopulerkan oleh sang legendaris Chrisye, namun fenomena kehidupan yang digambarkannya semakin hidup dan nyata.
Meminjam terminologi logoterapinya Victor Frankl, lagu tersebut menegaskan telah hadirnya penyakit berbahaya bagi kehidupan manusia Indonesia yaitu sindroma kehidupan dan generasi “Tanpa Makna” (Sindroma of Meaninglessness) .
Kehidupan modern menjadikan orang tua menjadi sangat sibuk namun kesibukannya tidak mendatangkan apapun kecuali kelelahan fisik dan psikologis, kekeringan spiritual serta semakin gagalnya individu dalam memenuhi keinginan akan makna (existential frustration) .
Sebagai remaja ABG, Indonesia juga sudah terjangkiti hal yang sama sehinga mudah melakukan kekerasan (tawuran), menyalahgunakan NARKOBA, pergaulan bebas dan melakukan tindakan kriminal lainnya.
Lagu yang sangat populer dinyanyikan oleh Chrisye ini, syairnya memberikan gambaran tentang masalah-masalah yang dapat muncul berkaitan dengan hubungan anak remaja dan orang tua dan tentang tumbuhnya budaya hedonistik dikalangan remaja.
Pesan dan isi syair lagu tersebut akan semakin menunjukkan realita dan kebenarannya seiring dengan semakin majunya kehidupan dan kebudayaan umat manusia.
Bagaimana dengan saudara ? Apakah sebagai orang tua saudara tersingung dan hati saudara merasakan adanya sentuhan “peringatan” dengan isi syair lagu tersebut ? Sejauh mana saudara sebagai orang tua “mengenali” dan “mengerti” dengan anak-anak saudara sendiri ? Yakinkah saudara bahwa putra putri saudara menjadi anak yang “benar” ketika dirumah maupun diluar rumah ? Tahukah saudara, sejauh mana putra putri saudara “percaya” dan “jujur” terhadap saudara ?
Bagi remaja, lagu tersebut juga dapat menjadi renungan apakah mereka akan menjadi remaja yang lemah dan hancur oleh kehidupan metropolitan yang penuh hura-hura dan kepalsuan, atau mereka menjadi remaja yang memahami tugas-tugas perkembangannya sebagai remaja dan tumbuh menjadi remaja yang memperoleh “pencerahan” dan dapat menjadi generasi yang dapat memberikan harapan bagi masa depan bangsanya yang sedang sakit
B. SIAPAKAH ANAK REMAJA (ANAK BARU GEDHE) ITU ?
Philipe Aries dalam bukunya “Centuries of Childhood” (1973) telah mengenalkan istilah “CHILDHOOD” untuk menyebut masa anak-anak remaja. Childhood juga berarti masa dimana seorang anak menuju dewasa yang selanjutnya dalam tulisan ini disebut Anak Baru Gedhe atau ABG.
Ketika mendengar istilah Anak Baru Gedhe hampir semua orang dapat membayangkan perubahan fisiknya.
Pada anak laki-laki makin dikenali dengan tubuhnya yang mulai tumbuh segede bapaknya, mulai timbul bulu-bulu / rambut pada bagian tubuh tertentu dan juga suaranya mulai membesar.
Pada anak perempuan dapat dikenali dengan perkembangan tubuhnya yang sudah mulai seperti ibunya sudah mulai “gerhana bulan” atau “banjir darah” dan sudah dapat berakibat fatal bila mengalami “tabrakan” dengan lawan jenisnya.
Definisi yang mengacu pada perubahan secara fisik dan biologis tidak cukup memberikan gambaran yang sesungguhnya. Oleh karena itu pada tahun 1974, Badan Kesehatan Dunia (WHO) memberikan definisi remaja dengan tiga kriteria pendekatan sekaligus yaitu biologik, psikologik, dan sosial ekonomi. Remaja menurut WHO adalah suatu masa dimana :
Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukka tsaudara-tsaudara seksual sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksual.
Individu mengalami perkembangan psikologik dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa.
Terjadi peralihan dari ketergantungan sosial – ekonomi yang penuh kepada keadaan yang relatif lebih mandiri.
Dari berbagai pendapat para psikolog, ada beberapa ciri psikologis yang dapat dikenali pada anak remaja antara lain :
Terjadinya restrukturisasi kesadaran dari kondisi “entropy” (kesadaran belum tersusun rapi / saling bertentangan) dan kondisi “negentropy” (kesadaran dan aspek-aspek kepribadiannya sudah tersusun dengan baik, memiliki tujuan hidup yang jelas, tidak mudah bimbang dan dapt bertanggung jawab).
Cenderung masih mengutamakan egonya (cenderung egois).
Reaksinya terhadap sesuatu/peristiwa cenderung spontan dan kurang disertai pertimbangan yang matang.
Masih kurang mampu mengendalikan keinginan-keinginan dan emosinya.
Kritis (senang berkomentar) tapi egocentris.
Merasa “yang paling” hebat dan senang kalau orang lain mengatakannya.
Senang berkelompok dan memiliki ikatan yang kuat dengan kelompoknya.
Senang dengan hal-hal yang baru dan mudah terpengaruh oleh trend mode, gaya hidup, dan kebudayaan yang baru.
Tidak senang kalau dianggap dan diperlakukan seperti anak kecil (merasa sudah dewasa dan ingin bebas).
Mengenal remaja dari sosoknya (ciri-ciri fisiologis) memang cenderung lebih mudah dibsaudarangkan dengan upaya untuk memahami dinamika psikologi dalam kehidupannya. Dengan mengenali ciri-ciri remaja tersebut akan membantu kita untuk memahami dan mengerti anak remaja.
Remaja sering disikapi ambivalen oleh orang lain termasuk orang tuanya. Sikap dan perlakuan orang lain yang ambivalen dan tidak konsisten menjadikan remaja pada posisi yang sulit dan mengalami kebingungan.
Hal ini akan menambah beban bagi remaja karena pada saat yang sama pada diri anak remaja juga sering berlangsung berbagai perubahan dan perkembangan fisiologis, intelektual, psikologis, sosial, moral bahkan spiritual.
Perubahan dan perkembangan tersebut membuat anak remaja kadang gelisah dan sulit memahami diri sendiri dan orang lain. Perubahan dan perkembangan berbagai aspek yang dialami anak remaja tersebut menyebabkan mereka terpengaruh, terguncang, kehilangan pegangan bahkan dapat kehilangan diri mereka sendiri.
Kondisi seperti ini sering dinyatakan sebagai krisis identitas atau terjadinya pembentukan jati diri yang menyimpang / negatif. Dalam masa tumbuh kembangnya menuju dewasa, anak remaja memiliki kebutuhan-kebutuhan psikologis antara lain :
kebutuhan menerima kasih sayang, kebutuhan untuk memberikan sumbangan / berpartisipasi dalam kelompoknya, kebutuhan untuk dipahami dan memahami, kebutuhan untuk mempelajari dan menyelidiki sesuatu.
Tugas utama orang tua adalah mengupayakan kepribadian anak menjadi dewasa sehingga mempunyai ciri-ciri kejiwaan mandiri, tanggung jawab, kritis, mampu mengendalikan emosi, memiliki sifat budi luhur, percaya diri, sabar tabah dan ulet, mampu mengambil keputusan dan mampu menghargai orang lain.
Upaya untuk mendewasakan anak bukanlah hal yang mudah karena banyak masalah yang menjadi kendala baik yang berasal dari faktor orang tua maupun anak remaja.
Robert Hovighurst (tokoh aliran konvergensi dalam psikologi perkembangan) meyakini bahwa setiap anak remaja memiliki tugas-tugas perkembangan yang harus dilakukan antara lain :
- Menerima kondisi fisiknya dan memanfaatkannya secara positif dan efektif.
- Menerima hubungan yang lebih matang dengan teman sebaya dari jenis kelamin manapun.
- Menerima peran jenis kelamin masing-masing.
- Berusaha melepaskan diri dari ketergantungan emosi terhadap orang tua dan orang dewasa lainnya.
- Mempersiapkan karir ekonomi.
- Mempersiapkan perkawinan dan kehidupan berkeluarga.
- Merencanakan tingkah laku sosial yang bertanggung jawab.
- Mencapai sistem nilai dan etika tertentu sebagai pedoman tingkah lakunya.
- Berhasil dan gagalnya tugas-tugas perkembangan pada remaja sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor individu remaja, faktor orang tua, teman bergaul, sekolah, masyarakat dan sebagainya.
C. SEBAB-SEBAB “ABG” BERMASALAH
Sebelum mambahas masalah-masalah yang menjadi penyebab terjadinya anak remaja bermasalah, akan lebih baik kalau kita bahas terlebih dahulu tentang pengertian anak remaja bermasalah.
Pengertian anak remaja bermasalah dalam makalah ini ada dua muatan yaitu
Anak remaja bermasalah berarti anak remaja yang sedang memiliki/menghadapi masalah dalam dirinya. Contohnya adalah remaja menghadapi masalah pacar, hambatan gagal dalam studi, tidak diterima lagi oleh kelompoknya, konflik dengan orang tua dan sebagainya.
Anak remaja bermasalah berarti anak remaja yang menimbulkan masalah terhadap orang/pihak lain.
Pengertian kedua ini pada dasarnya searti dengan anak remaja yang berperilaku menyimpang atau yang lebih dikenal dengan kenakalan remaja, seperti tawuran, penyalahgunaan NARKOBA, minum-minuman keras, melakukan tindakan yang mengganggu lingkungan dan sebagainya.
Kalau ada anak remaja bermasalah berarti pada proses tumbuh kembangnya, anak remaja tersebut sedang mengalami gangguan sekaligus telah terjadi sesuatu yang salah dalam pembentukan jati dirinya.
Beberapa faktor yang menyebabkan anak remaja bermasalah antara lain :
1. Keluarga yang gagal dalam melaksanakan fungsinya (disfungsional keluarga).
Setiap pria dan wanita yang menikah menjadi pasangan suami istri pasti mempunyai cita-cita dan tujuan untuk membangun keluarga yang harmonis, bahagia dan sejahtera.
Meskipun ketika pacaran biasanya dipenuhi dengan basa basi, kepura-puraan bahkan penipuan (saling membohongi), namun ketika sampai masalah tujuan berkeluarga maka tidak ada pasangan suami istri yang berani basa basi.
Hanya pasangan yang gilalah yang berani basa basi dalam hal tujuan menikah dan berkeluarga.
Meskipun demikian dalam kenyataannya banyak pasangan suami istri yang gagal mewujudkan keinginannya untuk membangun keluarga yang harmonis, bahagia dan sejahtera (sakinah, mawaddah dan rahmah) yang disebabkan oleh tidak adanya saling pengertian, saling memahami dan menyesuaikan, penyelewengan dan sebagainya.
Keluarga memiliki fungsi sebagai tempat pembentukan kepribadian anak remaja yang pertama, sehingga keluarga memegang peranan utama dalam proses perkembangan anak.
Lingkungan yang pertama yang memberikan pengaruh mendalam adalah lingkungan keluarga. Dari anggota keluarga yaitu ayah, ibu dan saudara-saudara sekandungnya anak akan memperoleh segala kemampuan dasar baik intelektual, moral maupun sosial.
Keluarga adalah tempat identifikasi diri, pengembangan kepribadian, pengembangan potensi, sumber kekecewaan sekaligus kebahagiaan, sumber ketidakpuasan sekaligus kepuasan, sumber kecemasan sekaligus kedamaian.
Kalau satu keluarga tidak berhasil/gagal dalam mewujudkan fungsinya maka dapat menyebabkan anak remaja tidak betah dirumah, kehilangan kepercayaan terhadap orang tua dan lebih percaya terhadap orang lain, mencari tempat pelarian di luar rumah bahkan remaja menganggap rumahnya bagaikan neraka.
Apakah saudara menginginkan anak-anak saudara terbakar oleh api yang saudara ciptakan sendiri ? Kehilangan keharmonisan dalam keluarga akan memiliki pengaruh destruktif sekaligus sebagai hal yang membingungkan, sebab mereka kehilangan tempat berpijak dan pegangan hidup.
2. Komunikasi orang tua dan anak yang tidak sehat.
Seorang gadis 15 tahun, sesudah konseling dengan seorang psikolog, sebelum keluar rumah gadis itu berhenti sebentar dan berkata : “Alangkah senangnya dapat mengungkapkan perasaan saya yang sesungguhnya kepada sseorang.
Belum pernah saya ceritakan hal-hal ini kepada orang lain sebelumnya, saya tidak akan berbicara seperti ini dengan orang tua saya”. Contoh ini merupakan contoh yang umum bagaimana anak menarik diri dari orang tuanya dan segan mengungkapkan perasaan-perasaanny a.
Gadis tersebut mungkin telah belajar dari pengalaman dan mengambil kesimpulan bahwa berkomunikasi dengan orang tua tidaklah menolong malah sering membuat tidak aman. Akibatnya banyak orang tua kehilangan beribu-ribu kesempatan untuk menolong anak-anaknya yang menghadapi masalah hidupnya.
Mengapa begitu banyak orang tua yang oleh anak-anaknya tidak dianggap sebagai sumber pertolongan ? Mengapa anak-anak tidak lagi berbicara / berkomunikasi dengan orang tua tentang masalah-masalah yang mereka hadapi ? Suatu keluarga kadang-kadang hanya berfungsi sebagai “terminal” yaitu sebagai tempat pemberhentian sementara.
Antara suami dan istri, antara anak dan orang tua, dan antar anak sering tidak terjadi kemunikasi dan dialog yang sungguh-sungguh. Kalaupun ada hanya sekedar basa basi, tidak ada kesempatan untuk saling bertanya tentang masalah pribadi, tidak ada upaya saling belajar dan peduli.
Masing-masing hanya memikirkan tujuan kepentingan dan keuntungan sendiri-sendiri. Bahkan suatu keluarga kondisinya dapat kebih buruk bila dibandingkan dengan terminal.
Sejelek-jeleknya terminal biasanya setiap kendaraan sudah memiliki jalur dan tujuan yang jelas dan disepakati bersama, akan tetapi dapat terjadi suatu keluarga berjalan tanpa memiliki arah dan tujuan yang jelas, bahkan tidak memiliki kesepakatan apapun sebagai hasil komunikasi/musyawar ah. Masing-masing anggota keluarga atau rumahnya sebagai tempat makan, tidur, mandi dan sebagai toilet.
Di Jakarta dan kota lain yang penuh dengan kesibukan kerja dan kemacetan, barbagai kemungkinan tersebut sangat mudah terjadi. Banyak orang tua yang pikiran dan tenaganya terkuras habis di atas kendaraan yang macet dan kerja di kantor yang menyebalkan / bikin stress.
Akibatnya pada saat pulang kerja, pikiran jiwa dan fisiknya sudah loyo dan tidak kuat. Dalam kondisi seperti ini biasanya seseorang malas untuk berkomunikasi dengan orang lain atau berkomunikasi dengan anak-anak mereka. Sebuah keluarga yang anggotanya (khususnya antara orang tua dan anak) tidak sering berkomunikasi, atau ada komunikasi tapi bersifat otoriter dan tidak dialogis akan mengakibatkan munculnya suasana keluarga yang tidak sejuk, bahkan akan muncul suasana yang gersang dan panas. Seorang anak remaja akan sulit tumbuh berkembang menjadi anak yang sehat bila tidak ada komunikasi yang sehat antara orang tua dan anak.
3. Perlakuan pengasuhan dan cara mendidik anak yang kurang tepat.
Seorang anak yang kecewa pada kedua orang tuanya berkata dalam suatu konsultasi “Mereka seringkali mengatakan betapa buruknya saya dan betapa bodohnya gagasan-gagasan saya, dan betapa saya tidak dapat dipercaya dan bahwa saya banyak melakukan hal-hal yang tidak mereka sukai. Bila mereka menganggap saya buruk dan bodoh, lebih baik saya terus melakukan hal-hal yang tidak mereka sukai”.
Apa yang dikatakan oleh anak remaja tersebut mengingatkan kita pada pepatah kuno, “Katakan pada anak bahwa ia buruk, maka ia benar-benar akan menjadi buruk”. Memang anak-anak sering menjadi apa yang dikatakan oleh orang tuanya.
Dalam budaya Jawa ada ungkapan “ojo nyepatani anak”. Ungkapan-ungkapan yang tidak mendidik kadang-kadang keluar tanpa disengaja. Hal ini biasanya terjadi karena orang tuanya sedang kesal oleh berbagai masalah keluarga dan pekerjaan namun anak tidak tahu atau tidak mau tahu.
Beberapa perlakuan orang tua yang kurang tepat / tidak dewasa antara lain :
Sangat melindungi dan memanjakan anak (over proteksi atau sebaliknya).
Hanya memberikan kepuasan lahiriah / materi saja dalam usaha mempengaruhi dan mendidik anak-anak dan kurang memberi kepuasan dan kehangatan batiniah.
Sangat menguasai anak secara autokratis dan memperlakukan anak dengan keras.
Memperlihatkan kekhawatiran tentang masa depan secara demonstratif dihadapan anak-anak.
Ada orang tua yang mempunyai anggapan dan sikap yang menginginkan agar anaknya tidak kesulitan atau susah, sikap ini timbul mungkin disebabkan oleh pengalaman pahit yang pernah dialami oleh orang tua semasa kecilnya atau disebabkan oleh perasaan bersalah karena tidak sempat mengurusi anak kerana kesibukan-kesibukan nya yang overaktif sehingga selalu memenuhi segala permintaan anak akan barang-barang yang mewah dengan harapan agar anak menjadi terhibur dan ikut merasakan kasih sayang orang tuanya.
Tetapi dengan tindakan overproteksi itu anak menjadi korban kesalahan pendidikan dan mengakibatkan anak tidak mampu mencapai kematangan pribadi, malas untuk mengurusi keperluan hidupnya sendiri, selalu tergantung pada orang lain, menjadi anak lemah mental atau weekling dan tidak memiliki inisiatif diri atau harga diri.
Karena tidak sanggup mengahadapi kesulitan hidup, mereka banyak mengalami konflik batin yang serius. Tindakan mereka cenderung sewenang-wenang, memaksakan kehendak dan kemauannya, egoistik atau selfis dan tindakan-tindakan yang tidak wajar lainnya yang sering bertentangan dengan norma susila dan hukum
4. Materialistik dan mengabaikan nilai-nilai agama
Bagi orang tua yang sudah terjangkiti virus materialisme maka akan mengakibatkan bentuk komunikasi dan perhatian terhadap anak-anaknya berubah menjadi komunikasi yang bersifat materialistik seperti : mudah memberikan barang-barang mahal, selalu memenuhi permintaan anak dan sebagainya.
Akan semakin parah akibatnya bila seorang suami memperlakukan istrinya sebatas komunikasi dan pemenuhan kebutuhan yang bersifat materialistik. Apabila suatu keluarga terjebak dalam kondisi seperti ini maka akan semakin membuka peluang bagi anggota keluarga (khusunya anak remajanya) untuk tidak betah dirumah dan mencari orang lain yang dapat diajak bicara, atau menerima kegundahan hatinya sekaligus mau memberikan perhatian dalam bentuk kasih sayang dan kepuasan batin lainnya.
Akan sangat beresiko bila mereka akhirnya menysaudararkan kegundahan hatinya pada orang lain yang kurang bertanggung jawab atau akan mencari pelarian pada obat-obatan terlarang dan minuman keras.
Fakta menunjukkan bahwa mayoritas anak remaja yang tersesat kedunia minuman keras, narkotik dan obat-obatan terlarang adalah anak dari orang tua yang jadi teladan
T etap diajarkan walau terasa sulit
E dukasi bukan sekedar pengajaran
L ingkungan religius diciptakan
A nak didik didewasakan
D ekatkan hati siswa, guru dan orang tua
A plikasikan ilmu dalam kehidupan
N eed for Achievement ditumbuhkan
3. Teknik “AKURLAH” dalam Keluarga (orang tua)
A gama menjadi sesuatu uang hidup dan dihayati
K omunikasi yang sehat dibiasakan
U payakan memiliki waktu bersama dan kebersamaan
R iang hati dan selalu membahagiakan
L apang dada dan sabar menghadapi persoalan dan perbedaan
A nak dan orang tua saling menghargai dan menyayangi
H idup selamat dunia kahirat menjadi tujuan
4. Teknik “BERIBADAH” dalam Masyarakat
B udaya malu dihidupkan
E tika dipelihara dalam seluruh praktek bermasyarakat
R ukun dan damai terus dipelihara
I badah ritual dan ibadah sosial dilakukan
B udaya permisive dan pornografi ditiadakan
A gama harus dipahami dan diamalkan, bukan hanya dibicarakan
D ialog dibudayakan dan kekerasan dihindari
A lkohol, Narkoba dan perjudian harus diperangi
H ukum ditegakkan secara adil untuk semua orang
Berbagai metode, teknik dan keempat upaya solusi bagi ABG (remaja) bermasalah tersebut bukanlah suatu teori yang tinggi di langit dan hanya berupa tulisan di buku, bukan tulisan para ahli, tetapi sesungguhnya sudah ada dan sudah dilakukan oleh sebagian remaja, sekolah, orang tua, dan masyarakat. Namun empat hal tersebut baru dilakukan oleh kekuatan yang kecil, belum menjadi sebuah gerakan bersama yang bersinergi dalam suatu jaringan yang sungguh-sungguh.
E. PENUTUP
Tulisan sederhana ini mudah-mudahan menjadi setetes sumbagan yang berarti bagi para remaja (ABG), sekolah, orang tua, dan masyarakat. ABG bukanlah sekedar Anak Baru Gedhe tetapi juga dapat menjadi ABG yang lain yaitu; Anak Baru Goyah, Anak Baru Gaul, Anak Berubah Gendeng/Gila, Anak Babe Gue, Anak Berprestasi Gedhe, dan juga Anak Baik Gitu. Terserah para remaja sendiri untuk memilihnya, asal dengan akal sehat.
HM.Jamaluddin Ahmad. Psi.
Psikolog Polda Metro Jaya.